Jumat, 08 Mei 2009

RUMAH PANGGUNG ASLI SUNDA


RUMAH sudah menjadi kebutuhan yang penting bagi manusia. Selain tempat berteduh, rumah pun dijadikan tempat bersosialisasi seluruh anggota keluarga. Selain menjadi bagian terpenting bagi kehidupan, bentuk dan gaya pun sengaja dibuat untuk menambah keindahan. Bahkan dijadikan identitas suatu suku atau komunitas di suatu tempat.

Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, tentunya mempunyai bentuk dan nama rumah adat sendiri. Masing-masing rumah adat mempunyai fungsi dan manfaat yang hampir sama, yaitu sebagai tempat tinggal, namun ada pula yang dijadikan tempat keramat.

Bahan bangunan yang digunakan untuk membuat rumah adat, baik di Jawa Barat maupun di daerah lainnya, umumnya terdiri atas bahan alami, seperti kayu, bambu, ijuk, daun kepala, sirap, batu maupun tanah. Selain itu, bangunan rumah adat pun biasanya jarang langsung menempel ke tanah (berlantai tanah), kecuali rumah adat di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, maupun Papua. Sedangkan di daerah lainnya di Indonesia, termasuk rumah adat di Jawa Barat, biasanya dibangun berbentuk panggung. Hal ini untuk sirkulasi angin, juga menghindari binatang (binatang buas maupun melata).

Khusus di tanah Parahyangan, rumah adat biasanya dibangun di atas tanah sekitar 40-60 cm dengan menggunakan batu. Biasanya dilengkapi golodog berupa tangga dan teras depan. Sedangkan bentuk atap atau suhunan sangat bergantung letak geografis di mana rumah itu dibangun.

Bentuk suhunan rumah Sunda sangat disesuaikan dengan keadaan alam serta kebutuhan masyarakat urang Sunda. Di tanah Parahyangan banyak bentuk gaya rumah, yang umumnya diperlihatkan dari bentuk atapnya (suhunan atau hateup). Ada beberapa susuhunan yang dikenal masyarakat Sunda, seperti suhunan jolopong atau regol, suhunan tago/jogog anjing, suhunan badak heuay, suhunan perahu kumureb/nangkub, suhunan capit gunting, suhunan julang ngapak, suhunan buka palayu, dan buka pongpok.

Suhunan jolopong (pelana), merupakan bentuk rumah yang atapnya memanjang. Atap rumah jolopong ini biasa juga disebut suhunan panjang, gagajahan, dan regol. Sedangkan atap rumah jogog atau tagog anjing, bentuknya seperti anjing yang sedang duduk. Bagian depan mirip mulut anjing, menjulur menutupi teras rumah (ngiuhan emper imah).

Atap rumah bentuk badak heuay, biasanya bentuk atapnya mirip bentuk atap rumah tagog anjing, tapi di bagian atas suhunan-nya ada tambahan atau atap belakang dan depan yang menyerupai badak menguap.

Atap rumah parahu kumureb/nangkub, yakni potongan bentuk atap yang mirip perahu terbalik (lihat gunung tangkubanperahu). Di daerah Tomo, Kab. Sumedang, bentuk rumah seperti ini disebut juga jubleg nangkub. Sedangkan atap rumah bentuk capit gunting, yakni atap rumah yang setiap ujungnya dihiasi kayu mirip gunting yang siap nyapit. Bentuk ini sering juga disebut srigunting. Sementara atap julang ngapak, dilihat dari depan, suhunan kiri kanannya mirip sayap burung yang terentang. Sedangkan julang-suhunanna sebanyak empat penjuru menyambung dari sisi turun ke bawah. Sambungan bagian tengah menggunakan tambahan mirip gunting muka di bagian puncaknya. Julang ngapak bentuknya mirip burung yang sedang terbang.

Atap rumah bentuk buka palayu, yakni atap rumah yang suhunan-nya mirip suhunan rumah adat Betawi dan di bagian depannya ada teras yang panjang. Sedangkan buka pongpok, bentuknya mirip buka palayu, namun bagian pintunya diubah dan diarahkan langsung ke bagian jalan.

Sangat jarang

Namun sayang bentuk dan gaya rumah adat Sunda ini sudah sangat jarang ditemui, khususnya di daerah perkotaan yang sudah ganti dengan nama dan gaya dari Barat. Tentunya hal ini bukan tanpa alasan. Kemajuan zaman dan adanya serangan budaya dari bangsa lain, membuat banyak bentuk rumah orang Sunda lebih bergaya modern.

Padahal masyarakat Sunda baheula, membuat gaya dan nama suhunan ini bukan sembarang. Selain itu fungsi dan namanya pun mempunyai arti masing-masing. Secara umum, nama suhunan rumah adat orang Sunda ditujukan untuk menghormati alam sakurilingna. Hampir di setiap bangunan rumah adat Sunda sangat jarang ditemukan paku besi maupun alat bangunan modern lainnya. Untuk penguat antartiang digunakan paseuk (dari bambu) atau tali dari ijuk ataupun sabut kelapa. Sedangkan bagian atap sebagai penutup rumah menggunakan ijuk, daun kepala atau duan rumia. Sangat jarang menggunakan genting.

Beruntung keberadaan kampung adat maupun kampung budaya di Jawa Barat sangat menolong eksistensi bentuk dan gaya suhunan rumah adat Sunda. Bukan hanya nama-nama suhunan rumah yang dipertahankan, tetapi bentuknya pun dipertahankan dan dikembangkan sesuai bentuk aslinya.

Dalam komunitas masyarakat adat urang Sunda, banyak bangunan yang pemakaiannya umum, seperti gedung, yakni rumah yang besar dan kuat. Biasanya menggunakan bahan bangunan yang ditembok.

Joglo, yakni sebuah rumah kecil dan sederhana (terbuat dari tembok dan kayu). Bale kambang, yakni rumah-rumahan dangau, dibangun di atas kolam. Poporogok, yakni rumah berbentuk dangau kecil tapi lumayan. Pakuwon, yakni pekarangan rumah milik sendiri. Ranggon, yakni dangau yang sangat tinggi kolongnya dan dibangun di atas pohon yang tinggi. Regol, yakni bangunan yang mempunyai daun pintu lebar dan saung, yakni dangau kecil yang dibangun di tengah sawah atau ladang tanpa menggunakan dinding, fungsinya untuk istirahat petani.

Babancong, yakni sebuah bangunan kecil di sisi alun-alun (dulu), berbentuk panggung untuk para pejabat. Balandongan, yakni bangunan rumah sementara untuk menerima tamu ketika ada hajatan maupun hiburan. Bale desa, yakni kantor pamong desa. Bale kota, yakni kantor wali kota atau bupati. Bale watangan, yakni gedung pengadilan. Gedong songko, yakni rumah bupati baheula. Kadaton atau keraton, pendopo, yakni teras luas di bagian depan gedung kewedanaan atau balai kota. Kaputren atau kaputran, yakni rumah dan bangunan untuk putri raja. Benteng, yakni bangunan kuat yang dijadikan benteng pertahanan. Jongko, yakni warung untuk berjualan dan lain-lain. Semua jenis bangunan dan nama bangunan tersebut, saat ini sudah tidak digunakan lagi karena tergerus oleh zaman. (kiki kurnia/"GM"/berbagai sumber)**

Budaya Sunda

Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjujung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat sunda, ramah tamah (someah), murah senyum lemah lembut dan sangat menghormati orang tua. Itulah cermin budaya dan kultur masyarakat sunda. Di dalam bahasa Sunda diajarkan bagaimana menggunakan bahasa halus untuk orang tua.

Minggu, 05 April 2009

Minggu, 22 Maret 2009

Pupuh

GUGURITAN…..
( dicutat tina Ulikan Sastra karangan DrsTaufik Faturohman )
(di serat ulang ku : M Sasmita)

Kecap Gurit asal tina basa Sangsekerta GRATH anu hartina nyusun karangan, dina basa Sunda aya istilah ngagurit atawa ngadangding, ari hartina sarua bae nyaeta nuduhkeun pagawean ngareka atawa nyusun karangan winangun dangsing.

Nurutkeun wincikanana dangsing atawa pupuh teh aya tujuh welas, nu masing-masing ngabogaan watek nu beda beda.

Istilahna :
- Pada
- Padalisan
- Guru Wilangan ( jumlah engang dina unggal padalisan )
- Guru Lagu.(dangdingdungna sora vokal dina engang panungtung)

1. Asmarandana, watekna silih asih silih pikanyaah atawa mepelingan.
Unggal Pada diwangun ku tujuh padalisan.
Contona :

Eling eling masing eling ( 8 engang - vokal i / E-ling-e-ling-
ma-sing-e-ling (jumlah 8), ling panungtung vokalna i)
rumingkang di bumi alam( 8 - a )
darma wawayangan bae ( 8 - e )
raga taya pangawasa ( 8 - a )
lamun kasasar lampah ( 7 - a )
nafsu nu matak kaduhung ( 8 - u )
badan anu katempuhan ( 8 - a )


2. Balakbak, watekna pikaseurieun.
Unggal pada diwangun ku 3 padalisan.
Contona :

Aya warung sisi jalan rame pisan - Citameng(15-e)
Awewena luas luis geulis pisan - ngagoreng (15-e)
Lalakina lalakina los ka pipir nyoo monyet - nyanggereng (19-e).


3. Dangdanggula, watekna bungah atawa agung.
Unggal pada diwangun ku sapuluh padalisan.
Contona:

Laut Kidul kabeh katingali ( 10-i )
ngembat paul kawas dina gambar ( 10-a )
ari ret ka tebeh kaler ( 8-e )
Batawi ngarunggunuk ( 7 - u )
lautna mah teu katingali ( 9 - i )
ukur lebah lebahna ( 7 - a )
semu semu biru ( 6 - u )
ari ret ka tebeh wetan ( 8 - a )
gunung gede jiga nu ngajakan balik ( 12 - i )
meh bae kapiuhan ( 7 - a )


4. Jurudemung, watekna kaduhung, atawa hanjakal.
Unggal pada diwangun ku lima padalisan
Contona :

Badan nu katempuhan ( 8 - a )
da bongan ngalajur nafsu ( 8 - u )
peurihna kapanggih ( 6 - i )
rek bongan bongan ka saha ( 8 - a )
ayeuna bati kaduhung ( 8 - u )


5. Durma, watekna heuras atawa siap rek tarung.
Unggal pada diwangun ku tujuh padalisan.
Contona :

Mundur mapag balad Pandawa teu tahan ( 12 - a )
barisan beuki ipis ( 7 - i )
digempur Kurawa ( 6 - a )
Senapatina Karna ( 7 - a )
sakti manggulang mangguling ( 8 - i )
hese pantarna ( 5 - a )
moal aya nu nanding ( 7 - i )


6. Gambuh, watekna bingung, samar polah atawa tambuh laku.
Unggal Pada diwangun ku lima padalisan.
Contona :

Ngahuleng banget bingung ( 7 - u )
henteu terang ka mana ngajugjug ( 10 - u )
turug turug harita teh enggeus burit ( 12 - i )
panon poe geus rek surup ( 8 - u )
keueung sieun aya meong ( 8 - o )


7. Gurisa, watekna pangangguran, lulucon atawa tamba kesel.
Unggal Pada di wangun ku dalapan Padalisan.
Contona :

Hayang teuing geura beurang ( 8 - a )
geus beurang rek ka Sumedang ( 8 - a )
nagih anu boga hutang (8 - a )
munmeunang rek meuli soang ( 8 - a )
tapi najan henteu meunang ( 8 - a )
teu rek buru buru mulang ( 8 - a )
rek tuluy guguru nembang ( 8 - a )
jeung diajar nabeuh gambang ( 8 - a)


8. Kinanti, watekna miharep atawa prihatin.
Unggal Pada diwangun ku genep Padalisan.
Contona :

kembang ros ku matak lucu ( 8 - u )
nya alus rupa nya seungit ( 8 - i )
henteu aya papadana ( 8 - a )
ratuning kembang sajati ( 8 - i )
papaes di patamanan ( 8 - a )
seungit manis ngadalingding ( 8 - i )


9.Ladrang, watekna banyol atawa pikaseurieun.
Unggal Pada diwnagun ku opat Padalisan.
Contona :

Aki Dartam leumpangna ngagidig ( 10 - i )
gancang pisan, gancang pisan ( 8 - a )
bari aya nu dijingjing ( 8 - i )
mawa kisa eusina ucing anakan ( 12 - a )


10. Lambang, watekna banyol atawa pikaseurieun.
Unggal Pada diwangun iu opat Padalisan.
Contona :

Nawu kubang sisi tegal ( 8 - a )
nyair bogo meunang kadal ( 8 - a )
atuh teu payu dijual ( 8 - a )
rek didahar da teu halal ( 8 - a )


11. Magatru, watekna lulucon deukeut deukeut kana prihatin.
Unggal Pada diwangun ku lima Padalisan.
Contona :

Mun sumuhun ieu teh namina curuk ( 12 - u )
nu alit namina cingir ( 8 - i )
anu panjang mah jajangkung ( 8 - u )
gigireunana jariji ( 8 - i )
anu pangageungna jempol ( 8 - o )


12. Maskumambang, watekna prihatin, sasambat atawa nalangsa.
Unggal Pada diwangun kiu opat Padalisan.
Contona :

Jalma kedul mumul ditambah jejerih ( 12 - i )
ulah ngarep senang ( 6 - a )
sabab mungguhing rejeki ( 8 - i )
tara datang teu disiar ( 8 - a )


13. Mijil, watekna sedih, susah atawa cilaka.
Unggal Pada diwangun ku genep Padalisan
Contona :

Beurang peuting tambah cape ati ( 10 - i )
jeung tambah rampohpoy ( 6 - o )
wungkul inget ka kabogoh wae( 10 - e )
mugi aya kadar panggih deui ( 10 - i )
mun teu panggih deui ( 6 - i )
anggur pondok umur ( 6 - u )


14. Pangkur, watekna nafsu, lumampah atawa sadia rek perang.
Unggal Pada diwangun kutujuh Padalisan.
Contona :

Seja nyaba ngalalana ( 8 - a )
ngitung lembur ngajajah milang kori ( 12 - i )
henteu puguh nu dijugjug ( 8 - u )
balik paman sadaya ( 7 - a )
nu ti mana tiluan semu rarusuh ( 12 - u )
Lurah Begal ngawalonan ( 8 - a )
" Aing ngaran Jayapati "( 8 - i )


15. Pucung, watekna piwuruk, wawaran, atawa mepelingan.
Unggal Pada diwangun ku opat Padalisan.
Contona :

Estu untung nu bisa mupunjung indung ( 12 - u )
jeung nyenangkeun bapa ( 6 - a )
tanda yen bagjana gede ( 8 - e )
hitup mulus kaseundeuhan ku berekah ( 12 - a )


16. Sinom, watekna gumbira.
Unggal Pada diwangun ku salapan Padalisan.
Contona :

Di wetan fajar balebat ( 8 - a )
panon poe arek bijil ( 8 - i )
sinarna ruhay burahay ( 8 - a )
kingkilaban beureum kuning ( 8 - i )
campur wungu saeutik ( 7 - i )
kaselapan semu biru ( 8 - u )
tanda Batara Surya ( 7 - a )
bade lumungsur ka bumi ( 8 - a )
murub mubyar langit sarwa hurung herang ( 12 - a )


17. Wirangrong, watekna era atawa wirang.
Unggal Pada diwangun ku genep Padalisan.
Contona :

Jalma nu resep ngaluis ( 8 - i )
lumrahna resep ngaleos ( 8 - o )
ngan pacuan resep ngusut ( 8 - u )
komo mun resep ngarujit ( 8 - i )
teu aya batan basajan ( 8 - a )
sagala sigar tengahan ( 8 - a )
Rengse diserat 17 rupi guguritan dina basasunda mangga nyanggakeun. Bilih aya nu peryogi Rajah bubuka tina pantun Ciung Wanara, engke kapayun urang seratkeun. Salam
M Sasmita

aksara sunda

Aksara Sunda nujul ka hiji sistim ortografi hasil karya masarakat Sunda nu ngawengku aksara jeung sistim kaaksaraan pikeun nuliskeun basa Sunda. Aksara Sunda ngarujuk ka aksara Sunda Kuna nu kungsi dipaké sahanteuna ti abad ka-14 nepi ka abad ka-18.


Sajarah

Salian ti aksara Sunda Kuna, kaadaban Sunda ogé kungsi wanoh jeung sababaraha sistim aksara lianna, di antarana

Sacara resmi, pamaréntah Jawa Kulon ngaliwatan Perda taun 2003 geus ngarojong aksara Sunda pikeun pakéeun sapopoé.

Komputerisasi

Komputerisasi aksara Sunda nalika medarna publikasi resmi ngeunaan aksara Sunda ti Pamaréntah Jawa Kulon. Conto mimiti nyaéta "Aksara Pakuan" dina wanda OTF.

Salian ti éta, dina bulan Januari 2006, proposal pikeun ngodekeun Aksara Sunda dina format Unicode geus dikirimkeun ka konsorsium Unicode. Prosés ieu bakal jalan dua taun lilana. Diharepkeun dina taun 2008, aksara Sunda geus asup kana susunan Unicode versi 5.0.

Susunan Aksara Sunda

Aksara Sunda diwangun ku sababaraha komponén, diantarana:

  • aksara ngalagena
  • vokal mandiri
  • aksara swara
  • tanda baca
  • angka

Aksara Ngalagena

Gambar:AksaraSunda-Ngalagena.png

Aksara Vokal Mandiri

Gambar:AksaraSunda-Vokal.png

Aksara Swara (Vokalisasi)

Gambar:AksaraSunda-Vokalisasi.png

Angka

Gambar:AksaraSunda-Angka.png

Conto makéna

Asmarandana

Gambar:Asmarandana-sunda.png

Éling éling masing éling,
rumingkang di bumi alam,
darma wawayangan baé,
raga taya pangawasa,
lamun kasasar lampah,
napsu nu matak kaduhung,
badan anu katempuhan.

Ladrang

Gambar:Ladrang-sunda.png

Ngareunaheun

Jawa-Sunda


Ada orang jawa sedang buang hajat di WC karena sakit perut. Tak lama kemudian datang orang Sunda dengan terburu-buru karena sakit perut yang hebat dan juga mau buang hajat.

Orang Sunda: Atos mang…atos mang… (sambil mengetuk pintu)

Orang Jawa: Atos..atos…orang lagi mencret dibilang atos…

Jawa: Atos (Indo. Keras)
Sunda: Atos (Indo. Lekas)

· · · · · · · · · ·

Kumpulan mp3 Sunda

  1. Kecapi suling
  2. ulah ceurik
  3. Nining Meida
  4. Potret manehna
  5. bang bara cinta

Sabtu, 21 Maret 2009

Wisata di Wanayasa

Apabila anda bosan dengan objek wisata yang sudah ada selama ini, terutama objek wisata buatan yang dibuat oleh pengusaha, tidak ada salahnya anda mencoba wisata alam yang satu ini yang berada di Kabupaten Purwakarta. Tempat wisata yang sangat alamiah ini merupakan wisata air dengan curug (air terjun) sebagai icon wisatanya, tempat wisata ini bernama Curug Cipurut yang termasuk kedalam wilayah administrasi kecamatan Wanayasa.

dscf87501

Akomodasi ke Curug Cipurut

Curug Cipurut dapat ditempuh dari Purwakarta, jadi apabila anda menggunakan jalan tol Cipularang anda dapat keluar di pintu Tol Sadang maupun Jatiluhur/Ciganea, setelah masuk kota Purwakarta, 0001v1 anda mengambil arah ke Wanayasa, jalur Purwakarta – Wanayasa berjarak kurang lebih 25 kilometer dengan kondisi jalan yang relatif baik akan tetapi agak sempit, kondisi ruas ini memang berkarakter dataran tinggi sehingga banyak turunan dan tanjakan serta tikungan, akan tetapi tentu saja tidak membosankan karena banyak pemandangan yang dapat dilihat serta banyak tempat kuliner yang dscf88181menggugah selera khususnya sate maranggi, sebelum masuk kota Wanayasa pun anda akan dimanjakan dengan pemandangan Situ Wanayasa, yang tepat berada di pinggir jalan diareal situ (danau) ini anda dapat beristirahat sambil mencicipi hidangan di warung-warung diareal situ, setelah melewati situ baru anda sampai di Wanayasa.

Dari Wanayasa anda mengambil arah ke Kecamatan Bojong, sekitar 300 – 500 meter anda akan tiba di pertigaan yang menuju ke arah desa Sumurugul, ambil ke kiri dan masuk ke jalan desa Sumurugul tersebut. Kondisi jalan ini setengahnya beraspal dan setengahnya lagi jalan berbatu, sehingga disarankan anda menggunakan kendaraan MPV dan tidak dianjurkan menggunakan kendaraan sejenis sedan. Dari pertigaan jalan utama tersebut sampai ke ujung jalan terdekat dengan Curug Cipurut yaitu sekitar 1,5 Km, diujung jalan desa ini terdapat dua lokasi parkir yang dapat mendscf8817ampung kurang lebih 7 kendaraan, sedangkan untuk parkir kendaraan roda dua relatif banyak karena dapat di gunakan pekarangan penduduk setempat, tiket parkir yang dikelola oleh karang taruna tidak ditetapkan secara pasti tergantung keinginan pemilik kendaraan secara umum berkisar antara Rp. 1.000,- – Rp. 2.000,- untuk kendaraan roda dua dan kisaran Rp. 2.000,- 5.000,- 10.000,- untuk kendaraan roda empat.

Untuk wisatawan yang tidak mendscf8814gunakan kendaraan sendiri, ada alternatif lain ke lokasi ini yaitu dengan menngunakan kendaraan umum, dari Purwakarta (Terminal Simpang) ke Wanayasa ada beberapa alternatif bisa anda gunakan yaitu angkutan perdesaan maupun angkutan antar kabupaten, apabila anda ingin waktu tempuh yang lebih cepat sebaiknya anda menggunakan kendaraan bis mini (elf), tarif kedua jenis moda angkutan umum ini relatif sama yaitu berkisar Rp. 5.000,- , dari Terminal Wanayasa anda bisa menggunakan angkutan perdesaan dengan tujuan Bojong/Sawit berhenti di pintu gerbang Desa Sumurugul dengan tarif sekitar Rp. 2.000,-, dari pintu gerbang ke Curug Cipurut anda dapat menggunakan ojek dengan tarif kisaran Rp. 10.000,-.

Dari batas akhir kendaraan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak kebun teh dengan jarak tempuh sekitar 500 meter atau sekitar 15 menit perjalanan orang dewasa dan 30 menit perjalanan anak-anak, sampailah kita di pintu gerbang Curug Cipurut, dengan tiket masuk Rp. 3.000,- perorang.

Sebaiknya apabila anda berkunjung ke Curug Cipurut pada waktu hari libur, selain hari tersebut biasanya lokasi relatif sepi sehingga tidak ada petugas yang berjaga maupun pedagang yang membuka usahanya. Pedagang disana sebagian besar menjajakan cemilan dan minuman atau mie rebus sehingga apabila anda ingin makan nasi sebaiknya membawa dari rumah atau rumah makan di sepanjang jalan Purwakarta-Wanayasa.

dscf88061

Potensi Curug Cipurut

Secara umum Curug Cipurut masuk kedalam Cagar Alam Gunung Burangrang sehingga pengelolaan saat ini masih dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jabar I dengan operasional dilapangan dibantu oleh Desa Sumurugul dan Desa Wanayasa.

dscf87901

dscf87851


Kondisi curug secara umum dibagi kedalam tiga bagian yaitu curug utama yang terdapat di ujung tebing dengan tinggi ± 25 m, serta dua curug lainnya yang lebih landai yang biasanya digunakan oleh pengunjung sebagai tempat seluncur , dengan air yang relatif segar dan dingin sangat cocok untuk menghilangkan kepenatan dalam bekerja maupun hiruk pikuk kota besar.

Lokasi Curug Cipurut pun sangat cocok untuk lokasi camping anak muda, wisata petualangan, tea walk serta wisata air tentunya (seluncuran), jadi apabila anda punya jiwa petualangan serta cinta akan alam lingkungan tidak ada salahnya anda berkunjung ke Curug Cipurut di Kabupaten Purwakarta.

Selasa, 17 Maret 2009

SEJARAH WANAYASA

Ujaring sepuh.

Ari karuhun Wanayasa téh asalna ti Mataram, nya éta Susuhunan Mangkurat, putrana Susuhunan Tegalarum. Susuhunan Tegalarum putrana Sultan Agung Mataram. Asalna tedak Dipati Hariang Banga, putra pamindo Ratu Galuh.

Susuhunan Mangkurat kagungan putra hiji pameget, jenenganana Pangeran Dipati Katwangan. Ageung-ageung éta Dipati Katwangan téh kagungan geureuha ka putrana Pangeran Madura, ti dinya kagungan putra dua:

1. Pameget, jenenganana Pangéran Pancawara.

2. Istri, jenenganana Ratu Harisbaya.

Ratu Harisbaya kagungan carogé ka Panembahan Girilaya, Cirebon. Pangéran Pancawara ogé sami nyarengan ka Cirebon, kagungan geureuhana ka raina Pangéran Girilaya, sarta kagungan cacah jiwa 80 somah. Pangéran Pancawara kagungan putra dua, pameget sadayana:

1. Dalem Putera Kelasa

2. Dalem Aria Surya di Kara

Dalem Aria Surya di Kara I, calikna di Léngkapura Sumedang. Kagungan putra hiji, jenenganana Dalem Giri Perlaya. Dalem Giri Perlaya kagungan putra hiji, jenenganana Raksa Nagara.

Kacarioskeun Ratu Harisbaya.

Ratu Harisbaya pipisahan sareng Panembahan Girilaya. Kagungan deui carogé ka Geusan Ulun ti Nagara Sumedang Larang, kagungan putra dua, pameget duanana:

1. Dalem Sura di Wangsa

2. Dalem Kusuma di Nata

Lami-lami Geusan Ulun wafat, énggalna sepuh-sepuh di Nagara Sumedang Larang barempug, lajeng nunuhun ka Susuhunan Mataram, nyuhunkeun kanggo piregeneun (pibupatieun) Nagara Sumedang. Anu kawidian ku Susuhunan Mataram téh Dalem Kusuma di Nata. Teras baé sadérékna anu sepuh, Dalem Sura di Wangsa, ngalolos ti Nagara Sumedang bari nyandak somah anu 80 téa. Angkat ngulon. Énggalna sumping ka Suriyan cul 17 somah, majeng deui, sumping ka Sanca cul 10 somah. Majeng deui ngulon, sumping ka Cocokbubu (Cibungkul), cul 30 somah. Anu dicandak kantun 23 somah, teras majeng deui ngulon-ngalér.

Kacarioskeun di Sumedang.

Dalem Suria di Kara sareng Dalem Raksanagara nyusul anu ngalolos téa. Sumping ka peuntaseun Citarum, Dalem Sura di Wangsa téh kasusul, diajak énggal-énggal mulih. Ari waler Dalem Sura di Wangsa, moal ngiring mulih ka Sumedang. Mung masihkeun somah 10. Janten anu dicandak ku Dalem Sura di Wangsa kantun 13 somah deui, lajeng neraskeun lalampahanana ka Banten.

Ayeuna urang tunda anu ka Banten, kocapkeun anu duaan téa,

Dalem Suria di Kara sareng Dalem Raksanagara henteu marulih deui ka Sumedang, énggal milarian tanjung pikeun pilemburan, teras didamel lembur anu dinamian Tanjung Pura. Di dinya henteu lami. Ngalih deui ka palih kidul, ngadamel deui lembur anu disebat Kasumedangan. Dupi anu jeneng di Kasumedangan nya éta Dalem Raksa Nagara. Ari Dalem Suria di Kara, lajeng angkat deui mudik, sumpingna ka Kali Cocokbubu. Ti dinya papendak deui sareng somah anu 30 tadi téa, nu dikantunkeun ku Dalem Sura di Wangsa.

Dalem Suria di Kara ngadamel lembur sawétaneun Kali Cocokbubu (Cibungkul), anu dinamian Babakan. Teu kantos lami, ngalih deui ka sakuloneun Kali Agung, teras ngadamel deui désa anu dinamian Wanayasa. Anu pihartoseunana “leuweung anu didamel lembur”. Éta lembur ngawitan dipidamel dina dinten Senén, tabuh salapan énjing-énjing, kaping 7 Robiul Awal 1107 Hijrah.

Lami-lami Wanayasa téh majeng, malih dugi ka janten kabupatén mandiri, anu namina Kabupatén Wanayasa. Dongkap réstu ti Mataram sareng dibisluitan, anu janten dalem munggaran di Kabupatén Wanayasa téh nya éta Dalem Aria Suria di Kara I.

Numutkeun panyariosan.

Kaunggel dina “Tjoektjroekan Robahan-robahan Pamaréntah di Tanah Priangan” kénging R. Suria di Raja (Panca-Warna, 1932) yén Wanayasa téh awitna kaumbulan kabawahna ka Tatar Ukur. Jenengan kaumbulanana Ukur Aranon, ari anu janten umbulna Ngabei Mertawana. Ukur Aranon (Wanayasa kapungkur), Ukur Sagalahérang (ngawengku Sagalahérang, Ciasem, Pamanukan), sareng Ukur Krawang (Karawang ayeuna), kelebet Ukur Nagara Agung, nya éta tilu kaumbulan anu aya di luar Bumi Ukur. Ari Bumi Ukur diwangun ku genep kaumbulan nya éta: Ukur Bandung (ngawengku Bandung Kidul sareng Ciparay), Ukur Pasirpanjang (Bandung palih wétan, Majalaya Kidul, Tanjungsari), Ukur Biru (Ujungberung, Cibiru), Ukur Curug Agung (Rajamandala, Cipatat, sabagian Cikalong), Ukur Batulayang (Cililin, Soréang, Ciwidéy), Ukur Kahuripan (Kota Bandung, Cimahi, Cikalong Wétan). Anu mawi Tatar Ukur harita disebat ogé Ukur Sasanga, ku margi diwangun ku salapan kaumbulan.

Nalika Dipati Ukur patelak sareng Sultan Agung Mataram, umbul anu salapan téh sadayana biluk ka Dipati Ukur. Dipati Ukur kasoran, diboyong sarta ditelasan ku Sultan Agung Mataram. Tatar Ukur diburak. Ukur Sasanga janten bawahan Kabupatén Bandung. Ari anu jadi bupatina Ngabei Astramanggala, tilas Umbul Cihaurbeuti anu satia ka Sultan Agung Mataram, sarta jenenganana dilandi: Radén Tumenggung Wira Angun-angun.

Dina taun 1677 waktos tanah Karawang kamilik ku Kumpeni, Wanayasa ogé kabaud, jadi bawahan Kumpeni. Dina taun 1681 Wanayasa didamel kabupatén, nu jadi regentna jenengan Demang Suradikara. Dina taun 1789 ieu kabupatén diburak, dihijikeun sareng Karawang.

Wanayasa janten kabupatén anu mandiri, kaunggel ogé dina buku Priangan karangan F. de Haan (1912: 169). Di dinya disebatkeun wates-wates Kabupatén Wanayasa: palih kidul Walungan Cisomang, palih kalér Ciasem (Walungan Cipunagara), palih wétan Walungan Cilamaya, palih kulon Walungan Citarum. Di antawisna ngurung palabuan di sisi Walungan Citarum di Cikao, anu kiwari nelah Cikaobandung.

Dupi dalem (bupati) anu kantos ngaheuyeuk dayeuh ngolah nagara di Kabupatén Wanayasa, nya éta:

1. Dalem Radén Aria Suria di Kara I

2. Dalem Panengah

3. Dalem Radén Raja di Nata

4. Dalem Radén Suria di Kara II

5. Dalem Radén Suria di Kara III

6. Dalem Radén Suria di Kara IV (Dalem Sumérén)

Wangsul deui kana pisaur sepuh.

Dalem Suria di Kara kagungan putra hiji, pameget jenenganana Dalem Panengah. Dalem Panengah kagungan putra Dalem Raja di Nata. Dalem Raja di Nata kagungan putra tujuh, pameget sadayana:

1. Dalem Suma di Nata

2. Dalem Aria Suria di Kara

3. Dalem Nata Yuda

4. Dalem Judi Manggala

5. Dalem Raksa di Raja

6. Dalem Yuda Paraya (Yuda Praja/Radén Demang Suma Praja)

7. Dalem Suma di Ra

Anu netep di Wanayasa opat, nya éta:

1. Dalem Suma di Nata

2. Dalem Aria Suria di Kara I

3. Dalem Nata Yuda

4. Dalem Judi Manggala

Demi anu janten Demang nya éta Dalem Suria di Kara, anu katelah Dalem Radén Aria Suria di Kara I. Nu janten patihna nya éta raina ku anjeun nyatana Dalem Nata Yuda, teras nu janten ngabéhina nyaéta Dalem Judi Manggala.

Kacatur wargina anu tilu deui, sasatna:

1. Dalem Raksa di Raja angkat ti Wanayasa ka Nagara Bandung, Distrik Tarogong (Garut ayeuna).

2. Dalem Suma di Ra, angkat ka Nagara Bandung, Distrik Kopo.

3. Dalem Yuda Paraya (Yuda Praja/Radén Demang Suma Praja)

Dalem Radén Aria Suria di Kara I kagungan putra 17, pameget 7 istri 10. Anu pameget kasebat:

1. Radén Dalem Aria Suria di Kara II, anu majengkeun Nagara Wanayasa kapungkur. Kagungan putra tilu:

1) Radén Suria di Kara

2) Nyai Radén Julaéha

3) Nyai Radén Siti Jénab

2. Radén Rangga Dira Kusuma, kagungan putra 2, pameget sadayana:

1) Radén Kara di Kusuma, janten Patih Ciasem kapungkur.

2) Radén Kusuma di Kara, janten Demang di Kalijati.

3. Radén Wangsa Kusuma

4. Radén Sura di Reja, janten Kapala Cutak di Cikao, kagungan putra dua, pameget duanana:

1) Radén Sura di Kusuma janten Mantri Cacar Lebak Siuh.

2) Radén Arya di Kusuma janten Kanduruan di Purwakarta.

5. Radén Nata di Pura, kagungan putra genep, pameget opat, istri dua:

1) Radén Asta di Paraya, janten jaksa di Wanayasa kapungkur.

2) Radén Nata Jibja, janten Patinggi Wanayasa kapungkur.

3) Radén Nata Paraya, janten Lurah Wanayasa kapungkur.

4) Muhamad Tahir, ieu mah teu nyepeng damel.

5) Nyai Radén Enau.

6) Nyai Radén Mula.

6. Radén Dira Jibja (Radén Wira Jibja), kagungan putra opat, pameget tilu, istri hiji.

1) Nyai Radén Raja Ésah

2) Anu pameget teu aya catetanana.

7. Radén Santri.

8. Nyai Radén Raja

9. Nyai Radén Nata Kumbara, carogéan ka Radén Suma di Reja, kagungan putra dua, pameget hiji, istri hiji:

1) Radén Baraya di Sura.

2) Nyai Radén Nata Kusuma

10. Nyai Radén Raja Imut, carogéan ka Radén Nata Yuda, janten Kapala Cutak di Sindangkasih, kagungan putra dua, pameget hiji, istri hiji.

1) Radén Nata di Manggala, janten Kapala Cutak di Purwakarta.

2) Nyai Radén Uji, janten Rangga di Wanayasa.

11. Nyai Radén Béma, carogéan ka Radén Rangga Omas, Bogor, kagungan putra dua, pameget hiji, istri hiji.

1) Radén Nata di Manggala.

2) Nyai Radén Tenda di Ningrat

12. Nyai Radén Nata Imbang, carogéan ka Kiyai Warega (anu ngumbara), kagungan putra dua, pameget hiji, istri hiji.

1) Kiyai Warega

2) Nyi Mas Gandiyah, carogéan ka Radén Asta di Paraya, putrana Radén Raksa di Rana, buyutna Kasumedangan (Dalem Raksa Nagara)

13. Nyai Radén Naga Mirah (Nyai Radén Adya), carogéan ka Radén Asta di Paraya (Radén Raksa Jibja), Patih Wanayasa. Ari Radén Asta di Paraya téh putrana Radén Raksa di Rana, buyutna Kasumedangan (Dalem Raksa Nagara).

14. Nyai Radén Téja Mirah, carogéan ka Radén Bangsa di Kusumah, Patih Wanayasa katilu, kagungan putra opat, pameget dua, istri dua.

1) Radén Bangsa di Kusuma, janten Kanduruan di Wanayasa

2) Radén Dipa Paraya, janten Patinggi Wanayasa,

3) Nyai Radén Nuri

4) Nyai Radén Wandas.

15. Nyai Radén Kasmirah

16. Nyai Radén Suma Kadaton

17. Nyai Radén Umi.

Ujaring warti.

Wanayasa dina jaman Pajajaran, kaunggel dina naskah kuno Bujangga Manik. Numutkeun Prof Dr. Noordijn, anu disebat Karajaan Saung Agung téh nya éta wewengkon Wanayasa ayeuna. Puseur dayeuhna di Ramanéa, nu aya di suku gunung Gunung Agung (Gunung Burangrang). Ari numutkeun Prof. Dr. Éddy S. Ékajati, Karajaan Saung Agung téh mangrupi karajaan bawahan Pajajaran anu pamungkas ditalukkeun ku Kasultanan Cirebon, sarta namina digentos jadi Wanayasa, mangrupi réduplikasi tina ngaran tempat anu aya di Cirebon.

Katerangan anu tangtos baé peryogi dipaluruh deui, dipatalikeun sareng sumber-sumber sanésna.

Pamungkas catur.

Sajarah Wanayasa, natrat panjang ti bihari dugi ka kiwari. Sanaos kitu, masih kénéh seueur anu kedah disungsi; disarungsum sareng dieuyeuban. Mangga, guareun urang sadayana, wariskeuneun ka anak incu, da bongan urang henteu kaluar tina beulah batu. Sanés kanggo agulkeuneun, ampun paralun upami dugi ka agul ku payung butut. Namung saur ujaring nu weruh disemuna, moal aya kiwari mun taya bihari, moal aya jaga mun taya ayeuna. Nya bagja temen jalma anu apal ka dirina, pibekeleun kumelendang di alam pawenangan.

Perkawis “Silsilah Rundayan Wanayasa”, upamina, tangtos kedah disarungsum sareng dieuyeuban deui, ku margi kabiasaan sepuh urang kapungkur nyatetkeun silsilah téh mung anu aya patalina sareng anjeunna baé. Anu tiasa janten éta silsilah téh ayeuna ogé aya di unggal kulawarga rundayan Wanayasa. Upami éta silsilah kulawarga téh dikempelkeun, bakal katingal lengkep sareng gulangkepna, anu tangtosna baris langkung euyeub. Maksadna, supados urang sareng anak-incu urang henteu dugi ka pareumeun obor, da bongan saur sepuh: baraya mah taya tapakna, dulur mah taya urutna. Maksad sim kuring saparakanca, di antawisna, hoyong nyusun “Database Silsilah Rundayan Wanayasa”.

Sasieureun sabeunyeureun, mugia aya mangpaatna.

Cag!


Bahan-bahan ti Bapa R. Sukendar Kerta Kusuma sareng Bapa R. Moh. Idris (alm.).

Sareng : Budi Rahayu Tamsyah alias Mang Adud

Diserat deui ku: Amo,,D

Leuweung

Ngaran hiji tempat téh raket patalina jeung sajarahna, kaayaan alamna, katut kabiasaan masarakatna. Tina carana méré ngaran tempat, upamana, bisa kanyahoan pasipatan katut angen-angen masarakatna. Anu matak bangsa-bangsa anu ngahargaan kana sajarah mah tara gampang ngaganti ngaran lemburna. Lamun téa mah kudu nyieun ngaran anyar, tara diwangwang atawa asal gaya anu pihartieunana ukur ku kirata alias “dikira-kira malar nyata”.

Aya anu nyebutkeun kalolobaanana ngaran tempat di Tatar Sunda mah dipiheulaan ku kecap ci, anu hartina “cai”, saperti Citalang, Cikeris, Cibatu, Cibodas, jeung Cisantri. Malah di Purwakarta ogé aya kampung anu ngaranna Cibulé di Sukasari, Cijangggot di Cisalada (Jatiluhur), Cikodok di Cisaat (Campaka), jeung Cimaédod di Palinggihan (Pléréd).

Mémang ngaran tempat anu maké ci di Purwakarta kawilang loba. Tapi ari ngaran kampung anu méh aya di unggal kacamatan mah nya éta Kampung Krajan. Ngaran Kampung Krajan di antarana baé aya di Kelurahan Tegalmunjul (Purwakarta), Désa Maracang (Babakan Cikao), Désa Parakanlima (Jatiluhur), Désa Cikopo (Bungursari), Désa Campakasari (Campaka), Désa Ciracas (Kiarapedes), Désa Wanayasa, Taringgul Tonggoh, Sukadami (Wanayasa), Désa Situ jeung Salamjaya (Pondoksalam), Désa Nangéwér (Darangdan), Désa Cileunca jeung Cikeris (Bojong), Désa Cibatu (Cibatu), Désa Cibogohilir (Pléréd), jeung Désa Citalang (Tegalwaru).

Naon atuh hartina krajan téh? Aya nu nyebutkeun cenah tina “karajaan”. Lamun enya téh, meureun baheulana mah di Purwakarta téh loba karajaan atawa patempatan anu aya patalina jeung raja. Bisa jadi deuih lain. Pikeun ngajawabna, jelas mikabutuh panalungtikan anu daria. Sabab bisa jadi aya patalina jeung sajarah Purwakarta. Éta téh kakara tina hiji ngaran kampung. Mangkaning ngaran kampung di Purwakarta téh aya ratusna, komo lamun jeung ngaran kampung anu geus diganti mah, ku lantaran ngarasa henteu gaya téa. Kurang PD. Poho wé kana sajarahna mah.

Ari kabiasaan masarakat méré ngaran tempat, biasana nyoko kana hiji kaayaan, kajadian, atawa kabiasaan snu diarah gampangna. Tara ieuh dihésé-hésé jeung digaya-gaya. Tapi ku cara kitu bet jadi ahéng. Conto deukeutna mah ngaran-ngaran tempat anu aya di Désa Cihanjawar, Kacamatan Bojong.

Sababaraha taun ka tukang aya kapal ragrag di tutugan Gunung Burangrang, anu aya di wewengkon Désa Cihanjawar. Éta kapal téh dipilotan ku Marsekal Ramli. Kapal anu leungit kapanggih ngajéngjéhé di hiji legok sarta Marsekal Ramlina ogé geus jadi mayit. Tah, nepi ka ayeuna tempat kapanggihna kapal jeung mayit Marsekal Ramli téh ku urang dinya dingaranan Legok Lomri.

Naha Legok Lomri lain Legok Ramli? Apan diarah gampangna téa, diluyukeun jeung létah urang dinya anu babari kénéh nyebut ngaran Lomri tibatan Ramli. Apan Bi Romlah ogé nénéhna mah Bi Elom, malah sakapeung sok aya nu nyebut Bi Lomrah.

Teu jauh ti dinya, aya deui ngaran tempat anu dingaranan Goréntél Mééd. Ari sababna, Mang Mééd urang Cihanjawar kungsi tigoréntél di dinya. Nya ngaranna “diabadikeun” di éta tempat nepi ka ayeuna. Sed ti dinya, aya curug anu katelahna Curug Ma Urni. Pédah Ma Urni keur jumenengna sok ngebon-ngebon di wewengkon éta curug. Ari lokasina teu jauh ti Pasir Andi, tempat Mang Andi “nyepén” sabada reureuh tina gawé sapopoé.

Saenyana masih kénéh loba ngaran tempat arahéng di Cihanjawar téh. Kakara di satempat éta téh. Bisa jadi di tempat séjén ogé teu jauh ti kitu.

Senin, 16 Maret 2009

Wanayasa Gaduh Manisan Pala

MANISAN buah pala barangkali sudah dikenal di mana-mana, tak terkecuali di Purwakarta, Jawa Barat. Di bagian timur wilayah ini, Anda bisa menjumpai cemilan yang dipercaya penuh khasiat itu.
Dalam bahasa India, buah pala dikenal dengan sebutan jadikeir. Sedangkan dalam bahasa China disebut loahau. Di Eropa, pala diolah sebagai minuman penghangat badan dan biasanya diminum ketika musim dingin tiba.
Buah pala berasal dari keluarga Myristicaceae. Nama latinnya adalah Myristica argentea, Myristica fragrans, dan Myristica malabarica. Tanaman ini umumnya bisa menghasilkan buah setelah berumur 7 tahun.
Di Indonesia, buah pala disebut-sebut berasal dari wilayah Kepulauan Banda, Maluku. Tinggi pohonnya bisa mencapai belasan meter. Pada saatnya, bunga terlihat di setiap ujung ranting yang kelak menjadi buah. Warna buahnya hijau kekuningan. Daging buahnya tebal berwarna keputihan dan rasanya getir, karena mengandung banyak getah. Tanaman ini umumnya dibudidayakan di wilayah perbukitan.
Di Purwakarta, Anda bisa menemukannya di Desa/Kecamatan Wanayasa. Letaknya kira-kira 25 km dari pusat kota Purwakarta ke arah Ciater. Warga setempat tidak hanya memanfaatkan buah pala untuk diambil bijinya. Daging buah itu diolah menjadi manisan. Deretan penjual manisan buah pala itu terpusat di sekitar Situ Wanayasa.
Secara umum, olahan buah pala itu dikenal dengan sebutan manisan pala basah dan pala kering. Pembedaan itu terkait cara pembuatannya. Bahan baku utamanya tetap sama, yaitu buah pala.
Adalah Nur (25), salah satu warga yang telah lama menggeluti pembuatan manisan buah pala itu. Dia menjelaskan, pembuatan manisan pala cukup sederhana. Buah pala yang telah dikupas kemudian diiris sesuai bentuk yang diinginkan. Buah itu selanjutnya direndam dalam air garam 1x24 jam.
Untuk jenis manisan pala kering, usai direndam air garam daging buah pala itu kemudian dicuci. Lalu daging buah pala itu diolesi gula pasir dan dijemur. Pengolesan dilakukan hingga 2 kali untuk mendapatkan rasa yang manis. Setelah itu ditempatkan di wadah yang kering dan siap dinikmati.
Jenis manisan pala basah lain lagi prosesnya. Setelah direndam air garam dan dicuci, pembuatan manisan dilanjutkan dengan proses fermentasi. Daging buah pala direndam di dalam air gula. Selain buah pala itu sendiri, air dari manisan pala basah itu juga dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
Penuh khasiat
Banyak referensi menyebutkan buah pala itu penuh khasiat. Guidebook on The Proper Use of Medicinal Plants misalnya, menyebut buah pala kaya senyawa kimia yang bermanfaat untuk kesehatan.
Senyawa kimia itu bisa membantu mengobati masuk angin, gangguan susah tidur (insomnia), memperlancar pencernaan dan meningkatkan selera makan (bersifat stomakik), memperlancar buang angin, mengatasi rasa mual-muntah (antiemetik), dan nyeri haid.
Kandungan kimia dalam buah pala itu juga dipercaya dapat mengatasi batuk berlendir, menghilangkan kejang otot, dan menjadi penenang bagi mereka yang hiperaktif. Memakan buah pala juga dapat menghilangkan ketagihan merokok.
Karena besarnya manfaat buah pala itu, minat terhadap aneka jenis olahan berbahan baku buah pala hingga kini tak pernah surut. Manisan buah pala ini salah satu yang diburu sebagai oleh-oleh berkhasiat.
Di sekitar Situ Wanayasa itu, satu kg manisan pala umumnya dijual seharga Rp 25.000. Untuk manisan buah pala basah dijual dalam beragam kemasan. Harganya bervariasi, dari Rp10.000 untuk kemasan toples kecil hingga Rp 60.000 untuk kemasan toples terbesar.
"Peminatnya lumayan, rata-rata sehari bisa 10-15 pembeli. Banyak juga yang sengaja mencari ke sini," tutur Yulia, salah satu penjual manisan pala lainnya.
www.wartakota.co.id